Mie Aceh adalah bukti sejarah hidup dari posisi Aceh sebagai "Serambi Mekah" dan pintu gerbang jalur perdagangan Nusantara. Hidangan ini adalah "melting pot" (panci peleburan) budaya yang sempurna: bentuk mie yang tebal dan teknik pembuatannya diadopsi dari pedagang Tiongkok; kuah kental berbau kari yang kuat adalah pengaruh masakan India/Tamil; sementara preferensi penggunaan daging kambing/sapi adalah pengaruh nilai-nilai Islam dari Timur Tengah.
Selain pengaruh asing, faktor geografis Aceh yang dikelilingi lautan (Selat Malaka dan Samudra Hindia) memasukkan unsur lokal berupa makanan laut (seafood) segar seperti udang dan kepiting ke dalam sajian ini. Bumbu-bumbu pedas dan panas seperti lada, jahe, dan cabai digunakan secara generus, yang secara historis berfungsi untuk menghangatkan tubuh masyarakat Aceh, mengingat curah hujan yang tinggi dan angin laut yang kencang di wilayah tersebut.
Pada masa konflik Aceh dahulu, kedai kopi dan warung Mie Aceh adalah sedikit dari ruang sosial yang tetap hidup, tempat masyarakat berkumpul membicarakan nasib negeri. Setelah damai, Mie Aceh menyebar cepat ke seluruh Indonesia, membawa serta budaya "Nongkrong" khas Aceh. Variasinya pun terbagi menjadi tiga "mazhab": Mie Goreng Kering, Mie Goreng Basah (nyemek), dan Mie Kuah, yang semuanya memiliki penggemar fanatiknya sendiri.
Mie Aceh ꦩꦶꦪꦺꦄꦕꦺꦃ
Mie kuning tebal yang disajikan dengan irisan daging sapi, kambing, atau makanan laut (udang/cumi), dimasak dengan bumbu kari yang pedas dan pekat.
Makna Filosofis
"Mie Aceh melambangkan "Ketegasan dan Keterbukaan". Rasa pedasnya yang menonjol dan bumbunya yang "medok" mencerminkan karakter orang Aceh yang tegas, berani, dan tidak setengah-setengah dalam bersikap. Di sisi lain, kemampuan mie ini menerima berbagai topping (daging, kepiting, udang) mencerminkan sifat keterbukaan masyarakat pesisir yang siap menerima tamu dan budaya dari luar, lalu menyatukannya menjadi kekuatan baru."
Jejak Sejarah
Resep Tradisional
Resep Mie Aceh Kuah Kepiting
Bahan Utama
-
200 gram
Mie Basah -
75 gram
Daging Sapi -
4 siung
Bawang Putih -
3 butir
Bawang Merah -
1 buah
Tomat -
200 ml
Air -
3 sdt
Kaldu Bubuk -
50 gram
Tauge -
2 sdm
Kecap Manis -
0.5 sdt
Garam -
1 sdt
Gula Pasir -
0.5 sdt
Cuka -
4 sdm
Minyak Goreng -
1 batang
Daun Bawang -
1 sdm
Bawang Goreng -
6 butir
Bawang Merah -
4 siung
Bawang Putih -
1 buah
Kapulaga -
4 buah
Cabai Merah Besar -
2 cm
Kunyit -
0.25 sdt
Jinten -
0.5 sdt
Lada Putih Bubuk -
1 buah
Timun -
5 butir
Bawang Merah -
1 sdt
Gula Pasir -
1 sdt
Cuka -
0.5 sdt
Garam
Cara Membuat
Haluskan semua bumbu dengan menggunakan blender atau cobek.
Panaskan minyak di wajan, lalu masukkan bawang merah, bawang putih. Tumis bersama bumbu halus hingga harum, lalu masukkan daging sapi. Aduk rata, masak hingga daging berubah warna, dan tumisan matang.
Tambahkan taoge dan tomat. Masak hingga layu, lalu tambahkan garam, Kecap Manis Bango, Royco Kaldu Sapi, gula pasir, serta cuka.
Masukkan mie, kemudian taburi dengan daun bawang. Aduk hingga tercampur rata lalu angkat dan matikan api.
Sajikan mie goreng Aceh dengan acar dan taburi bawang goreng.
Tahukah Anda?
Dahulu sempat beredar mitos bahwa kelezatan Mie Aceh disebabkan oleh penambahan ganja sebagai bumbu rahasia. Namun, ini hanyalah mitos urban. Rahasia sebenarnya terletak pada teknik "gongseng" (menumis bumbu sampai benar-benar matang dan berminyak) serta penggunaan rempah-rempah yang memiliki efek sedatif alami dan menenangkan (seperti biji pala dan cengkeh) serta efek euforia dari pedasnya cabai (pelepasan endorfin), yang membuat ketagihan secara alami tanpa narkotika.
Informasi Sajian
- Waktu Masak 45–60 menit
- Kalori ~420kkal/100g
- Rasa Dominan Pedas, Kari, Gurih
Kuliner Lainnya
Suka Kuliner Ini?
Simpan ke favorit atau bagikan pengalamanmu mencicipi Rendang.