Rendang
Maluku & Papua TERPERCAYA

Papeda ꦥꦥꦺꦣ

Bubur sagu khas Maluku dan Papua yang bertekstur lengket menyerupai lem, tawar rasanya, dan disantap dengan Ikan Kuah Kuning yang asam segar.

Makna Filosofis

"Papeda melambangkan "Ikatan Persaudaraan yang Erat". Teksturnya yang lengket dan sulit dipisahkan saat diambil mengajarkan filosofi bahwa sesama saudara dan masyarakat harus bersatu padu, lengket satu sama lain, dan tidak mudah dipecah belah. Makan papeda seringkali dilakukan dalam satu wadah besar bersama-sama (tradisinya disebut "Helai Mbai Hote Mbai" - satu kompor satu belanga), menyimbolkan kebersamaan dan kerukunan keluarga."

Jejak Sejarah

Papeda adalah warisan kuliner prasejarah Nusantara. Jauh sebelum padi (nasi) masuk dan mendominasi Indonesia, sagu adalah makanan pokok masyarakat di kepulauan timur. Pohon sagu tumbuh liar di hutan rawa-rawa Papua dan Maluku. Nenek moyang masyarakat adat Papua mengolah pati sagu dengan cara yang sangat sederhana namun penuh makna ritual. Papeda bukan sekadar makanan, melainkan "napas" kehidupan bagi suku-suku seperti Sentani dan Asmat.
Dalam tradisi masyarakat Sentani, papeda dikenal dengan nama "Helai". Proses pembuatannya seringkali melibatkan kerja kolektif keluarga; kaum pria menebang dan menokok sagu di hutan, sementara kaum wanita memeras patinya dan memasaknya. Pada masa Orde Baru, sempat terjadi marginalisasi pangan lokal di mana beras dipaksakan sebagai standar makanan pokok nasional (Raskin), yang membuat pamor papeda sempat meredup. Namun, kini kesadaran akan diversifikasi pangan membangkitkan kembali kebanggaan pada papeda.
Penyajian papeda selalu berpasangan dengan Ikan Kuah Kuning (biasanya ikan tongkol, kakap, atau gabus) dan sayur ganemo (melinjo). Rasa papeda yang tawar berfungsi sebagai kanvas kosong yang menyeimbangkan rasa kuah ikan yang sangat kuat, asam (dari jeruk nipis/belimbing wuluh), dan pedas (kunyit dan cabai). Ini adalah contoh keseimbangan gizi purba: Karbohidrat kompleks (sagu) bertemu protein dan omega-3 (ikan) serta vitamin (rempah).

Resep Tradisional

Resep Papeda Kuah Kuning

Bahan Utama

  • 250 gr
    Tepung Sagu
  • 1 liter
    Air
  • 1 sdt
    Garam

Cara Membuat

1

Siapkan tepung sagu dalam wadah besar.

Persiapan Bumbu
2

Didihkan 800 ml air dalam panci.

Persiapan Bumbu
3

Ambil 200 ml air yang tersisa, campurkan dengan tepung sagu, aduk hingga merata dan larut.

Persiapan Bumbu
4

Tuang air mendidih ke dalam campuran tepung sagu sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga adonan berubah menjadi kental dan transparan. Proses ini memerlukan kesabaran, pastikan adonan diaduk terus-menerus untuk mendapatkan tekstur papeda yang sempurna.

Persiapan Bumbu
5

Tambahkan garam, aduk hingga garam larut dan tercampur merata.

Persiapan Bumbu

Papeda siap disajikan dengan kuah kuning dan sayuran pelengkap.

Hasil Akhir Rendang

Tahukah Anda?

Memakan papeda membutuhkan keahlian khusus. Tidak bisa menggunakan sendok biasa, melainkan menggunakan alat bantu dari bambu bernama "Gata-gata" (di Maluku) atau "Hiloi" (di Papua). Caranya adalah dengan menggulung bubur sagu yang lengket tersebut dengan gerakan memutar cepat seperti memintal benang agar tidak terputus, lalu meluncurkannya ke piring.

Informasi Sajian

  • Waktu Masak 45–60 menit
  • Kalori ~120kkal/100g
  • Rasa Dominan Tawar (Papeda), Asam Gurih (Kuah)

Kuliner Lainnya

Indonesia (Umum)

Nasi Goreng : ꦤꦱꦶꦒꦺꦴꦫꦺꦁ

Lihat Detail
Indonesia (Umum)

Sop Buntut : ꦱꦺꦴꦥ꧀ꦧꦸꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀

Lihat Detail
Sumatera Barat

Rendang : ꦉꦤ꧀ꦝꦁ

Lihat Detail
Kalimantan Selatan

Soto Banjar : ꦱꦺꦴꦠꦺꦴꦧꦚ꧀ꦗꦂ

Lihat Detail
Sumatera Barat

Sate Padang : ꦱꦠꦺꦥꦣꦁ

Lihat Detail
Jawa Barat (Cirebon)

Tahu Gejrot : ꦠ¹ꦲꦸꦒꦼꦗꦿꦺꦴꦠ꧀

Lihat Detail
Maluku & Papua

Papeda : ꦥꦥꦺꦣ

Lihat Detail
Yogyakarta

Gudeg : ꦒꦸꦣꦼꦒ꧀

Lihat Detail
Bali

Ayam Betutu : ꦄꦪꦩ꧀ꦧꦼꦠꦸꦠꦸ

Lihat Detail
DKI Jakarta

Kerak Telor : ꦏꦼꦫꦏ꧀ꦠꦼꦭꦺꦴꦂ

Lihat Detail

Suka Kuliner Ini?

Simpan ke favorit atau bagikan pengalamanmu mencicipi Rendang.

Web hosting by Somee.com