Sate Padang diyakini berasal dari daerah Padang Panjang dan Pariaman di Sumatera Barat. Sejarahnya tidak lepas dari tradisi kuliner Minang yang gemar menggunakan rempah-rempah kuat (seperti jintan, ketumbar, serai, kunyit) yang dibawa oleh pedagang India dan Arab berabad-abad silam. Awalnya, sate ini adalah hidangan kenduri adat, di mana pemanfaatan "jeroan" (jantung, usus, lidah) menjadi solusi cerdas agar seluruh bagian sapi kurban dapat dinikmati oleh masyarakat luas.
Dalam perkembangannya, Sate Padang terbagi menjadi tiga varian utama berdasarkan wilayah asalnya yang mencerminkan sejarah lokal. Sate Padang Panjang (Darek) memiliki kuah kuning cerah karena dominan kunyit. Sate Pariaman (Pesisir) memiliki kuah merah membara karena lebih banyak menggunakan cabai, mencerminkan karakter masyarakat pesisir yang tegas. Sementara Sate Kota Padang adalah hasil perpaduan (transisi) keduanya, dengan kuah kecokelatan yang menyeimbangkan rasa pedas dan aroma rempah.
Penyebaran Sate Padang ke seluruh Nusantara terjadi seiring dengan budaya "Merantau" orang Minang. Para perantau membawa resep leluhur ini dan menjajakannya mulai dari gerobak dorong hingga restoran. Uniknya, meskipun merantau jauh, para pedagang Sate Padang biasanya tetap mempertahankan resep asli kampung halamannya, menjadikan kuliner ini salah satu yang paling konsisten rasanya di mana pun ditemukan.
Sate Padang ꦱꦠꦺꦥꦣꦁ
Varian sate khas Minangkabau yang menggunakan daging sapi, lidah, atau jeroan, disajikan dengan kuah kental berwarna kuning atau kemerahan yang kaya rempah, serta ditaburi bawang goreng.
Makna Filosofis
"Sate Padang melambangkan "Keberanian dan Integritas". Rasa pedas yang menyengat langsung di lidah menggambarkan sifat orang Minang yang terus terang, berani, dan egaliter. Sementara itu, kuahnya yang kental mengikat daging dan ketupat melambangkan persaudaraan yang erat. Penggunaan jeroan mengajarkan bahwa hal yang tampak sederhana jika diolah dengan ilmu (bumbu) yang tepat, akan memiliki nilai rasa yang tinggi."
Jejak Sejarah
Resep Tradisional
Resep Sate Padang Pariaman
Bahan Utama
-
1 kg
Daging Sapi -
50 ml
Kecap Manis -
2 siung
Bawang Putih -
1 sdt
Lada Putih Bubuk -
1 sdt
Garam -
1 sdt
Ketumbar Bubuk -
1 sdt
Kunyit -
1 sdt
Cabe Bubuk -
10 tusuk
Tusuk Sate -
500 ml
Santan -
4 siung
Bawang Putih -
2 batang
Sereh -
5 lembar
Daun Jeruk -
2 lembar
Daun Salam -
2 cm
Lengkuas -
1 sdm
Gula Merah -
1 sdt
Garam -
secukupnya
Minyak Goreng
Cara Membuat
Persiapkan bahan-bahan marinasi, termasuk bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe, serai, dan rempah-rempah lainnya.
Haluskan bumbu-bumbu tersebut dengan menggunakan blender atau ulekan sampai membentuk pasta yang halus.
Campurkan bumbu yang telah dihaluskan dengan bahan lainnya, seperti kecap manis, minyak, dan perasa lainnya.
Ambil daging yang sudah dipotong-potong menjadi ukuran sate, dan rendam dalam campuran bumbu marinasi tersebut. Marinasi hingga 2 jam.
Tusuk daging yang telah dimarinasi ke tusuk sate.
Panggang di atas bara api atau panggangan hingga matang dan berwarna kecoklatan.
Panaskan minyak dalam wajan.
Tumis bawang putih, serai, daun jeruk purut, daun salam, dan lengkuas hingga harum.
Tuang santan ke dalam wajan.
Masukkan gula merah, garam, dan merica bubuk.
Masak dengan api kecil hingga saus mengental dan bumbu meresap, sekitar 15-20 menit.
Aduk perlahan agar tidak gosong.
Saus khas sate padang siap digunakan sebagai pelengkap hidangan sate padang.
Tahukah Anda?
Berbeda dengan sate di Jawa yang dibakar menggunakan kecap manis yang bisa membuat daging gosong (karamelisasi), daging Sate Padang sebenarnya sudah direbus matang dengan bumbu sebelum dibakar. Proses pembakaran di atas arang hanya sebentar saja, sekadar untuk memberikan aroma "smokey" (asap) dan memanaskan kembali dagingnya, sehingga tekstur dagingnya tetap lembut di dalam.
Informasi Sajian
- Waktu Masak 120–150 menit
- Kalori ~280kkal/100g
- Rasa Dominan Pedas, Gurih, Berempah Kuat
Kuliner Lainnya
Suka Kuliner Ini?
Simpan ke favorit atau bagikan pengalamanmu mencicipi Rendang.